Laman

1 Juni 2013

Perkembangan Teknologi Persenjataan dan Ruang Angkasa pada perang dingin

Hubungan Perkembangan Teknologi Persenjataan dan Ruang Angkasa dengan Kondisi Keamanan Dunia pada Masa Perang Dingin

Berakhirnya Perang Dunia II menyebabkan kekuatan dunia terbagi atas dua blok, yaitu Blok Barat pimpinan Amerika Serikat dan Blok Timur pimpinan Uni Soviet (Rusia). Kedua blok ini saling bersaing demi merebut pengaruh dalam berbagai bidang kehidupan manusia.

1).  Perkembangan Teknologi Persenjataan
Persaingan yang paling mencolok dalam masa perang dingin adalah dibidang militer. Kedua negara adidaya itu saling berlomba menciptakan berbagai senjata yang mutakhir dan mematikan, misalnya bom.

Bom adalah senjata ledak yang lazim digunakan dalam perang. Bom terdiri atas wadah logam yang diisi dengan bahan peledak atau bahan kimia yang bisa melukai dan menewaskan orang serta merusak gedung, bangunan dan benda-benda lain di sekitarnya.

Bom atom dibuat pertama kali oleh Amerika Serikat pada tanggal 16 Juli 1946 di alamo Gardo, New Moxico. Kemudian dipakai untuk menghancurkan kota Hiroshima dan Nagasaki di Jepang. Tenaga atom yang ditimbulkan bom ini akan menimbulkan radiasi yang dalam jumlah basar dapat berakibat fatal. Selain itu, debu radioaktif dan endapan dari awan yang tertiup dan berterbaran di daratan dapat mengakibatkan kerusakan tanaman serta membinasakan hewan dan manusia. Pada jangka panjang ledakan bom atom akan mengakibatkan kanker dan kematian pada manusia serta akan mengalami kerusakan genetis.

Pada tahun 1949 Uni Soviet juga berhasil menciptakan dan melakukan uji coba peledakan bom atomnya. Sehingga menimbulkan kecemasan pada Amerika Serikat dan berusaha mencari dan menciptakan bom tandingannya dan akhirnya berhasil menciptakan bom hidrogen. Bom hidrogen mendapatkan tenaga dari penggabungan inti-inti atom hidrogen berat deuteron. Ledakan yang ditimbulkan oleh bom hidrogen jauh lebih dahsyat dibanding bom atom karena bom ini akan menghasilkan bola api dan memunculkan awan cendawan. Bom hidrogen proses fusinya dapat dimanfaatkan untuk maksud pertahanan dan tujuan damai. Pada tahun 1953 Uni Soviet juga berhasil menciptakan dan mengembangkan bom hidrogennya.

Kedua negara adidaya ini berlomba-lomba menciptakan bom dan persenjataan nuklir. bom nuklir adalah sebuah bom yang memiliki daya ledak luar biasa yang berasal dari peristiwa pembelahan dan penggabungan inti-inti atom. Efek yang ditimbulkan merupakan akibat dari pelepasan energi yang sangat besar dalam waktu singkat. Persenjataan nuklir adalah persenjataan dalam kategori nonkonvensional yang daya ledaknya berasal dari energi yang dihasilkan oleh reaksi nuklir. Bom ini sangat membahayakan umat manusia.

Usaha untuk menyelesaikan Perang Dingin ini adalah dengan bekerja sama dalam bidang pertahanan dan keamanan. Organisasi pertahanan yang dibentuk selama Perang Dingin, seperti SEATO, ANZUS, NATO, dan Pakta Warsawa. Selain tiu juga dilakukan perundingan yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Uni Soviet melalui Strategic Arms Talks (SALT) atau Perundingan Pembatasan Persenjataan Strategi dan Strategic Arms Reduction Treaty (START) atau Perundingan Pengurangan Persenjataan Strategi.

Perundingan SALT secara umum bertujuan untuk :
a).    Memperkecil kemungkinan terjadinya perang nuklir
b).    Apabila perang tidak dihindarkan, diharapkan akibatnya tidak terlalu menghancurkan
c).    Menghemat biaya pertahanan
d).    Mencegah terjadinya perlombaan senjata strategis

Bentuk persetujuan yang dicapai :

a).    Perjanjian Nonpoliferasi Nuklir (Nonpoliferation Treaty)
Dilaksanakan pada tahun 1968 yang diikuti oleh negara Inggris, Amerika Serikat, dan Uni Soviet yang menyepakati bahwa mereka tidak akan menjual senjata nuklir atau memberikan informasi kapada negara-negara nonnuklir.

b).    Perundingan Pembatasan Persenjataan Strategi (Strategic Arms Talks/SALT I)
Ditandatangani oleh Richard Nixon, Presiden Amerika Serikat dan Leonid Breshnev, Sekjen Partai Komunis Uni Soviet pada tanggal 26 Mei 1972. Menyepakati untuk :
1.  pembatasan terhadap sistem pertahanan antipeluru kendali (Anti-Balistic Missiel=ABM)
2.  Pembatasan senjata-senjata ofensif strategis

c).    Perundingan Pengurangan Persenjataan Strategi (Strategic Arms Reduction Treaty /START)
Dilakukan oleh Amerika Serikat dan Uni Soviet pada tahun 1982 yang menyepakati bahwa kedua negara adidaya akan memusnahkan persenjataan nuklir yang dapat mencapai sasaran jarak menengah.
   
2).  Pengeksploitasian Ruang Angkasa
a).    Persaingan antara Amerika Serikat dan Uni Soviet
Teknologi penerbangan antariksa terjadi ketika era Perang Dingin dan persaingan antara Amerika Serikat dan Uni Soviet (Rusia). Teknologi roket yang merupakan dasar dari sistem penerbangan antariksa pada mulanya dikembangkan untuk keperluan persenjataan. Diciptakan oleh ilmuan Jerman bernama Wehrner Von Braun.

Rusia unggul lebih dahulu dengan keberhasilannya meluncurkan satelit yang pertama di dunia dengan nama Sputnik I pada 4 Oktober 1957 dan pada tanggal 31 Januari 1958 Amerika Serikat juga berhasil meluncurkan satelit pertamanya yang bernama Explorer serta pada tanggal 12 April 1961 Rusia kembali meluncurkan manusia pertama ke angkasa luar yang bernama Yuri Alekseyivich Gagarin, seorang mayor Angkata Udara Rusia yang meluncur dengan kapsul Vostok I. Kemudian disusul oleh Amerika Serikat yang meluncurkan astronaut pertamanya, Alan B Shepard dengan kapsul Mercury 7. Kemudian Amerika Serikat berhasil mengirim pesawat pengorbit pada tanggal 20 Februari 1962 dengan kapsul Friensip 7 yang diwakili oleh Letkol. John Herschel Glenn.

Rusia mengirim wahana tak berawak Lunik II pada 14 September ke bulan karena peralatannya rusak akibat hard landing jadi tidak mampu mengirim data apaun ke bumi. Pada Februari, Rusia juga mendaratkan wahananya Lunik IX secara Soft landingdi bulan. Sementara itu, Amerika Serikat juga berhasil melakukan pendaratan lunak pada tahun 1966. Setahun kemudian, berhasil mengirim gambar TV pertama dari permukaan bulan. Puncaknya pada 17 Juli 1969, ketika Neil Amstrong dan Edwin Aldrin adalah orang pertama yang menginjakkan kaki di bulan melalui misi Apollo 11. kemudian dilanjutkan dengan misi Apollo 12 (November 1969), Apollo 14 (Februari 1971), Apollo 15 (Agustus 1971), Apollo 16 (April 1972) dan Apollo 17 (Desember 1972). Sementara itu, Rusia pernah mengirim modul Lunkhod I pada 17 November 1970. Modul berupa robot yang dikendalikan dari bumi.

Persaingan antara Amerika Serikat dan Uni Soviet terus berlanjut dalam bidang penguasaan ruang angkasa. Akibatnya, pengiriman misi berawak membutuhkan biaya yang sangat besar. Selain itu cara ini sangat beresiko karena jika terjadi kecelakaan di ruang angkasa akan mustahil untuk melakukan pertolongan. Maka pada tahun 1970-an, NASA mulai mengembangkan pesawat ulang-alik. Amerika Serikat kembali meluncurkan pesawat ulang-alik pertamanya, Columbia pada bulan Juni 1981. Pesawat ulang-alik Challenger meledak saat peluncuran pada tanggal 28 Februari 1986 dan menewaskan 7 orang awak. Kemudian juga terjadi kecelakaan yang menimpa Columbia I, Februari 2003, ketika itu pesawat meledak di udara sesaat setelah memasuki atmosfir bumi dalamproses pendaratan.

Rusia juga sempat mengembangkan pesawat ulang-aliknya sendiri yang barnama Buran (Badai Salju). Tahun 1988, Buran sempat diuji cobakan dalam sebuah penerbangan tanpa awak. Akibat dari krisis politik maupun ekonomi yang melanda Rusia akhirnya proyek ini dibubarkan. Pecahnya Uni Soviet membawa malapetaka bagi program antariksa Rusia.

Kini, Amerika Serikat dan Rusia bersama-sama dengan negara maju lainnya bahu-membahu mengembangkan Stasiun Luar Angkasa Internasional (International Space Station) . selain itu teknologi roket tidak lagi merupakan monopoli Amerika Serikat dan Rusia. Tercatat negara-negara seperti Jepang, India, Cina, dan Uni Eropa juga telah berhasil mengembangkan teknologi roketnya sendiri.

b).    Perkembangan di Cina
Cina berhasil mengirim manusia ke orbit dengan Roket Long March 2F yang membawa kapsul Shenzhou V. Roket Long March 2F merupakan kendaraan peluncur hasil pengmbangan para ilmuan Cina dan merupakan roket konvensional bertingkat tiga dengan empat roket tambahan pada tingkat pertama yang berfungsi sebagai booster.

c).    Perkembangan di Indonesia
Indonesia belum terlibat langsung dalam eksplorasi ruang angkasa, tetapi Indonesia sudah mempunyai pengalaman dalam pengeksploitasi teknologi ke antariksa. Pada tanggal 9 Juli 1976 indonesia berhasil meluncurkan satelit Palapa A1 dan pada tanggal 19 juni 1983 satelit Palapa B1 juga berhasil diluncurkan ke antariksa. Pada er 1980-an, Indonesia bahkan sempat menyiapkan astronautnya untuk mengikuti misi ulang-alik tetapi karena tejadi bencana Challenger misi ini dibatalkan. Pada tahun 2003, Indonesia juga mulai berancang-ancang membuat satelit mikro melalui kerja sama dengan Universitas Berlin, Jerman. Namun pengembangan roket ini kurang berhasil dan akhirnya dihentikan.




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar