Berbagi Ilmu

9 April 2014

Kesulitan Belajar dan Usaha Mengatasi Belajar Matematika



A.  Kesulitan Belajar Matematika

  1. Masalah matematika dapat diklasifikasikan ke dalam dua jenis, yaitu[1]: Soal mencari (Problem to find), yaitu mencari, menentukan atau mendapatkan nilai atau objek  tertentu yang tidak diketahui dalam soal dan memberi kondisi atau syarat yang sesuai dengan soal. Objek yang ditanyakan atau dicari , syarat- syarat yang memenuhi soal, data atau informasi yang diberikan merupakan bagian terpenting atau pokok dari sebuah soal mencari dan harus dipahami serta dikenali dengan baik pada saat awal memecahkan masalah. 
  2. Soal membuktikan (problem to prove), yaitu prosedur untuk menentukan apakah suatu pernyataan benar atau tidak benar. Soal membuktikan terdiri atas bagian hipotesis dan kesimpulan. Pembuktian dilakukan dengan membuat atau memproses pernyataan yang logis dari hipotesis menuju kesimpulan, sedangkan untuk membuktikan bahwa suatu pernyataan tidak benar cukup diberikan contoh menyangkalnya sehingga pernyataan tersebut menjadi tidak benar.
B.  Usaha untuk Mengatasi Kesulitan Belajar Matematika
Sekolah atau perguruan tinggi mempunyai tanggung jawab yang besar dalam membantu siswa agar mereka berhasil dalam belajar matematika. Untuk itu Sekolah atau perguruan tinggi memberikan bantuan kepada siswa dalam mengatasi masalah-masalah yang timbul dalam belajar.

Usaha untuk mengatasi berbagai kesulitan belajar matematika itu antara lain[2]:
  1. Memahami soal yaitu dengan memahami dan mengidentifikasi apa fakta atau informasi yang diberikan, apa yang ditanyakan, diminta untuk dicari atau dibuktikan.
  2. Memilih pendekatan atau strategi pemecahan. Misalnya menggambarkan masalah dalam bentuk diagram, memilih dan menggunakan pengetahuan aljabar yang diketahui dan konsep yang relevan untuk membentuk model atau kalimat matematika.
  3. Menyelesaikan model yaitu dengan melakukan operasi hitung secara benar dalam menerapkan strategi untuk mendapatkan solusi dan masalah. Menafsirkan solusi yaitu dengan memperkirakan dan memeriksa kebenaran jawaban, masuk akalnya jawaban, dan apakah memberikan pemecahan terhadap masalah semula.


TAFSIR AYAT TENTANG PESERTA DIDIK




A.      Surat Al-Taubah ayat 122 

       Lafadz Ayat


وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُوْنَ لِيَنْفِرُواْ كَآفَّةً ج فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِّنْهُمْ طَآئِفَةٌ لِّيَتَفَقَّهُواْ فِى الدِّيْنِ وَلِيُنْذِرُواْ قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوآ إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُوْنَ


Terjemahan Ayat
Tidak sepatutnya bagi mukmin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.


Asbab Al-Nuzul
Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari ‘Ikrimah bahwa ketika turun ayat, “Jika kamu tidak berangkat (untuk berperang), niscaya Allah akan menghukum kamu dengan azab yang pedih...(QS. at-Taubah:39). Padahal pada waktu itu sejumlah orang tidak ikut berperang karena sedang berada di padang pasir untuk mengajarkan agama kepada kaum mereka, maka orang-orang munafik mengatakan, “Ada beberapa oarng di padang pasir yang tinggal (tidak ikut berperang). Celakalah orang-oarng padang pasir itu.” Maka turunlah ayat, “Dan tidak sepatutnya orang-orang mukmin itu semuanya pergi (ke medan perang)...[1] 
Selain itu Ibnu Abi Hatim meriwayatkan hadits yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Ubai bin Umar yang menceritakan, bahwa mengingat keinginan kaum muslimin yang sangat besar-besaran untuk berjihad, katanya, “Orang-orang Islam diberi galakkan supaya berjihad, apabila Rasulullah SAW menghantar bala tentera ke medan perang mereka akan keluar beramai-ramai. Pada masa yang sama mereka meninggalkan Rasullullah SAW di Madinah bersama orang-orang yang lemah.” Maka turunlah firman Allah SWT yang paling atas tadi (yaitu QS. Surat Al-Taubah ayat 122).
Kaitan Surat Al-Taubah ayat 122 dengan Pendidikan
Belajar mempunyai peranan yang penting dalam kehidupan. Dengan belajar orang akan memiliki pengetahuan. Oleh sebabnya belajar dapat menambah ilmu pengetahuan baik teori maupun praktik serta belajar dinilai sebagai ibadah kepadda Allah. Pada hakikatnya, proses pembelajaran merupakan interaksi antara guru dan siswa. Guru sebagai penyampaian materi pembelajaran dan siswa sebagai pencari ilmu pengetahuan sekaligus sebagai penerimanya. 
Pada ayat ini memberi anjuran tegas kepada umat Islam agar ada sebagaian dari umat Islam memperdalam agama. Dalam Safwah al-Tafsir dikatakan bahwa yang dimaksud kata tafaqquh fi al-din adalah menjadi seorang yang mendalami ilmunya dan selalu memiliki tanggung jawab dalam pencarian ilmu Allah. Dengan demikian menurut tafsir ini dalam sistem pendidikan Islam tidak dikenal dengan dikotomi pendidikan, karena akan menimbulkan dampak kesenjangan antara sistem pendidikan Islam dan ajaran Islam yang memisahkan antara ilmu-ilmu agama dengan ilmu-ilmu umum.

[1] Jalaluddin As-Suyuthi, Asbabun Nuzul:Sebab Turunnya Ayat Al-Qur’an. Cet 1, Jakarta: Gema Insani, 2008, hal 308.