Berbagi Ilmu

9 April 2014

KEDUDUKAN AKAL DAN NAFSU DALAM PENDIDIKAN

A.  Hubungan Kedudukan Akal dan Nafsu dalam Pendidikan
Pemahaman terhadap potensi berpikir yang dimiliki berhubungan dengan pendidikan. Hubungan tersebut antara lain terlihat dalam rumusan tujuan pendidikan. Benyamin Bloom, cs., dalam bukunya Taxonomy of Educational Objective membagi tujuan-tujuan pendidikan dalam tiga ranah, yaitu kognitif, afektif dan psikomotor. Ranah kognitif dan afektif sangat erat kaitannya dengan fungsi kerja akal. Dalam ranah kognitif terkandung fungsi mengetahui, memahami, menerapkan, menganalisis, mensintesis dan mengevaluasi.[1] Hal ini erat kaitannya dengan aspek berfikir (tafakkur). Sedangkan dalam ranah afektif terkandung fungsi memperhatikan, merespon, menghargai, mengoranisasi nilai dan mengkarakterisasi. Fungsi ini erat kaitannya dengan fungsi akal pada aspek mengingat (tazakkur).
Adapun orang yang mampu mempergunakan fungsi berfikir yang terdapat pada ranah kognitif dan pada fungsi mengingat yang terdapat pada ranah afektif termasuk ke dalam kategori Ulul al-bab. Orang yang demikian itu akan berkembang kemampuan intelektuanya, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi serta emosional dan mampu mempergunakan semua yang ada pada dirinya untuk berbakti kepada Allah SWT dalam arti yang seluas-luasnya.
Pemakaian akal dalam Islam diperintahkan oleh Al-Qur’an. Karena Al-Qur’an itu sendiri baru dapat dipahami, dihayati dan diprektikkan oleh orang-orang yang berakal. Selanjutnya pemahaman terhadap fungsi akal yang terdapat dalam diri manusia harus dijadikan tolak ukur dalam merumuskan tujuan dan mata pelajaran yang terdapat dalam kegiatan pendidikan.[2] Pemahaman yang keliru terhadap akal sebagai mana yang pernah terjadi dalam sejarah dapat menyebabkan terjadinya kekeliruan pula dalam merumuskan tujuan dan materi pendidikan. Dengan demikian, pemahaman yang tepat terhadap fungsi dan peran akal ini amat penting dilakukan dan dijadikan pertimbangan dalam merumuskan masalah-masalah pendidikan, misalnya pada tujuan pendidikan dan kurikulum pendidikan.
Pendidikan yang  baik adalah pendidikan yang harus mempertimbangkan potensi akal. Pendidikan harus membina, mengarahkan dalam mengembangkan potensi akal pikiran sehingga ia terampil dalam memecahkan masalah, diisi dalam berbagai konsep-konsep dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, memiliki pemahaman tentang yang baik dan benar.
Berbagai fenomena alam raya dengan segala isinya dapat digunakan untuk melatih akal agar mampu merenungkan dan menangkap pesan ajaran yang terdapat di dalamnya. Dengan akal yang dibina dan diarahkan seperti itu, maka ia diharapkan dapat terampil dan kokoh dalam menghalangi berbagai pengaruh negatif yang ditimbulkan oleh hawa nafsu.
Pendidikan harus mengarahkan dan mengingatkan manusia agar tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang merangsang dorongan hawa nafsu. Seperti berpakaian yang tidak menutup aurat, berjudi, minuman keras, narkoba, pergaulan bebas dan sebagainya.  Materi pendidikan yang dapat meredam gejolak hawa nafsu itu adalah penerapan akhlak dan budi pekerti yang mulia dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan demikian, orang yang terbina akalnya dan telah terkendali hawa nafsunya dengan pendidikan, maka ia akan menjadi orang yang bermental tangguh, tawakal, tidak mudah terjerumus dan siap menghadapi ujian kehidupan. Indikasinya, orang tersebut akan memiliki jiwa yang tenang, tidak lekas berputus asa karena dengan akal dan pikirannya ia menemukan berbagai rahasia dan hikmah yang ada dibalik ujian dan kesulitan yang dihadapi. Baginya kesulitan dan tantangan bukan dianggap sebagai beban yang membuat dirinya lari dari Allah SWT, melainkan harus dihadapi dengan tenang dan mengubahnya menjadi peluang rahmat dan kemenangan.[3] 
Berdasarkan uraian tersebut di atas terlihat dengan jelas bahwa kajian terhadap akal dan hawa nafsu secara utuh, komprehensif dan benar merupakan masukan yang amat penting bagi perumusan konsep pendidikan dalam Islam.


[1] Nasution, Asas-asa kurikulum. Cet 1, Jakarta: Bumi Aksara, 1994, hal 50.
[2] Abuddin Nata, Op.Cit, hal 140.
[3] AA. Qowiy, 10 Sikap positif, Menghadapi Kesulitan Hidup. Cet 1, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2011, hal 41.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar